Senin, 08 Oktober 2012

KONDISI BISNIS DALAM NEGERI MENINGKAT





alt
Ilustrasi grapik bisnis
Jakarta – Kondisi bisnis di Indonesia pada triwulan II-2012 meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya dengan nilai Indeks Tendensi Bisnis (ITB) 104,22. Angka itu menunjukkan tingkat optimisme pelaku bisnis dalam negeri memandang potensi bisnis lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya dengan nilai ITB 103,89.
Data itu tercantum dalam laporan Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai “Indeks Tendensi Bisnis dan Indeks Tendensi Konsumen Triwulan II-2012” yang dirilis secara resmi Senin (6/8) di Jakarta.
Semua sektor bisnis menunjukkan angka peningkatan kecuali pada sektor pertambangan dan penggalian. Angka tertinggi terdapat pada sektor perdagangan, hotel dan restoran dengan nilai ITB 110,21. Kemudian sektor jasa-jasa (nilai ITB 106,17), sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan (nilai ITB 106,15).
Sedangkan sektor industri pengolahan (nilai ITB 106,06) sektor keuangan, real estat dan jasa perusahaan (nilai ITB 105,77) sektor konstruksi (nilai ITB 104,83) sektor pengangkutan dan komunikasi (nilai ITB 104,14) dan sektor listrik, gas dan air bersih (nilai ITB 102,06). Penurunan yang terjadi pada sektor pertambangan dan penggalian dengan nilai ITB 92,55.
Berdasarkan variable pembentukannya, BPS menemukan peningkatan kondisi bisnis pada triwulan II-2012 karena adanya peningkatan penggunaan kapasitas produksi/usaha (nilai ITB 106,13), rata-rata jam kerja (nilai ITB 103,45) dan pendapatan usaha (nilai ITB 103,59).
Indeks Tendensi Bisnis adalah indikator perkembangan ekonomi terkini yang datanya diperoleh dari Survei Tendensi Bisnis (STB). Survei ini dilakukan oleh Badan Pusat Statistik bekerja sama dengan Bank Indonesia.
ITB merupakan indeks yang menggambarkan kondisi bisnis dan perekonomian pada triwulan berjalan dan perkiraan pada triwulan mendatang. STB dilakukan setiap triwulan di beberapa kota besar terpilih di seluruh provinsi di Indonesia. Jumlah sampel STB triwulan II-2012 sekitar 2.500 perusahaan besar dan sedang, dengan responden pimpinan perusahaan.
Sementara data Indeks Tendensi Konsumen (ITK) nasional pada triwulan II-2012 sebesar 108,77, artinya kondisi ekonomi konsumen meningkat dari triwulan sebelumnya. Tingkat optimisme konsumen lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya (nilai ITK sebesar 106,54).

Membaiknya kondisi ekonomi konsumen didorong oleh peningkatan pendapatan rumah tangga, rendahnya pengaruh inflasi terhadap konsumsi makanan sehari-hari, dan peningkatan konsumsi beberapa komoditi makanan dan bukan makanan.

Data BPS menunjukkan, perbaikan kondisi ekonomi konsumen di tingkat nasional terjadi karena ada peningkatan kondisi ekonomi konsumen di semua provinsi yakni 33 provinsi, dimana 18 provinsi di antaranya (54,55 persen) memiliki nilai indeks di atas nasional. Provinsi yang memiliki nilai ITK tertinggi adalah DKI Jakarta (nilai ITK sebesar 111,48). Sebaliknya, Provinsi Papua Barat tercatat memiliki nilai ITK terendah, yaitu sebesar 105,45.

Sementara perkiraan pada triwulan III-2012, membaiknya kondisi ekonomi konsumen terjadi di semua provinsi di Indonesia (33 provinsi), dimana 18 provinsi diantaranya (54,55 persen) diperkirakan memiliki nilai indeks di atas nasional. Provinsi yang memiliki perkiraan nilai ITK tertinggi adalah Kalimantan Timur (nilai ITK sebesar 114,44) dan terendah di NTT (nilai ITK sebesar 106,29). (bps/mas)